Bukittinggi, Kota Sejarah yang Mulai Berbenah

bukittinggiku – Berada jauh dari Bukittinggi, membuat banyak “mantan” penghuninya rindu dengan berbagai sudut ramah kota tua itu. Bahkan setelah hidup di berbagai kota dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap, Bukittinggi tetap saja menjadi perhentian hari tua yang diidam-idamkan.

Bertahun-tahun jauh dari Bukittinggi, tidak menjadikan ratusan, bahkan ribuan perantaunya lupa hawa sejuk yang menemani mereka pergi sekolah dulu. Juga suasana tiga pasar iconic-nya. Dan yang tidak pernah terlupakan, adalah sudut-sudut kota dengan berbagai spot wisatanya yang membekas.

                                                                                                                        Foto: IG @richardvans.gallery

Namun, kerinduan pada Bukittinggi itu seringkali tidak terbayarkan ketika para perantau ini pulang kampung dan mencicipi wajah Bukittinggi yang semakin terbarukan. Mereka sudah tidak melihat lagi wisatawan asing berkeliaran sebanyak dulu. Mereka juga tidak bisa lagi menikmati angin segar nostalgia sebab banyak yang berubah dari kota kesayangannya itu.

                                                                                                                         Foto: IG @bukittinggiku

Sebut saja Janjang 40 yang berganti wajah, taman Jam Gadang yang terlihat jauh berbeda, dan janjang-janjang lainnya yang telah diperbarukan. Semua ini membuat sensasi pulang kampung para perantau terasa berbeda. Mereka tidak menemukan lagi hawa kota tua di Bukittinggi. Tidak ada lagi Pasar Atas yang begitu ramah wisatawan. Semua bertukar dengan pembangunan dan perubahan yang seolah melupakan identitas Bukittinggi sebagai kota penuh sejarah.

“Bukittinggi tidak seperti dulu. Rindu kami tidak terbayar dengan wajah barunya”, kata Ara, salah satu perantau asal Bukittinggi yang pulang untuk berlibur suatu siang di pelataran parkir Jam Gadang.

Menurutnya, bagus jika Pemkot melakukan pembangunan demi kemajuan kota kesayangan ini, tapi ada hal yang seharusnya dibiarkan apa adanya sebab bisa jadi hal tersebutlah yang menjadi daya tarik Bukittinggi. Ara juga mengaku kurang setuju dengan beberapa kebijakan baru di Bukittinggi yang seolah, memaksakan wisatawan untuk memakai nilai dan norma yang sama dengan masyarakat setempat.

                                                                                                                                 Foto: covesia.com

Hanya saja, terlepas dari kekecewaan para perantau melihat wajah baru Bukittinggi, perubahan akan tetap terjadi. Yang perlu kita lakukan sebagai orang yang mengaku cinta pada Bukittinggi hanya menjaganya. Dimulai dari menjaga kebersihan kota tua ini. Dan yang paling penting adalah, tetap berpikiran positif pada perubahan-perubahan yang terjadi dan menyikapinya dengan bijaksana.

“Salam rindu untuk Bukittinggi ku yang teduh”

 

Penulis: @SuciBYT

Editor: @bukittinggiku

Bagikan Sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *