Curhatan Netizen Tentang Ribetnya Penggunaan “Kartu Sehat” di Rumah Sakit Bukittinggi

bukittinggiku – Siapa di sini yang pernah atau sering berkunjung ke rumah sakit? Berobat, membesuk, atau sekedar liat-liat aja. Ada yang perhatian kenapa sepertinya semakin hari, orang sakit terlihat lebih banyak dari biasanya? Ada yang bertanya kenapa semakin hari rumah sakit terasa lebih sesak dan sibuk dari biasanya? Ada yang penasaran kenapa di rumah sakit di Bukittinggi selalu terlihat ramai?

Yap. Berdasarkan survey alakadarnya, setidaknya dua tahun terakhir di Rumah Sakit Ibnu Sina Bukittinggi,kesibukan pelayanan kesehatan lebih sibuk dari biasanya dengan jumlah pasien yang lebih banyak dari sebelumnya. Why? Sederhana, jawaban paling asal jawab tentang ini bisa dihubungkan dengan adanya pihak ketiga penyedia jasa pelayanan kesehatan yang mirip dengan asuransi. Bisa dibilang asuransi kesehatan pada dasarnya, hanya saja berbeda jauh dari hal prosedur dan sistim gunanya. Bagi masyarakat yang tergolong tidak mampu, fasilitas ini diberikan secara gratis, bagi PNS atau karyawan-karyawan, fasilitas ini dibayarkan dengan potongan gaji mereka, sedangkan bagi masyarakat umum fasilitas ini dibayar sendiri yang diurus secara mandiri. Jadi sebenarnya fasilitas asuransi kesehatan ini tidak sepenuhnya gratis. Lantas apa hubungannya dengan semakin ramainya “orang sakit” di berbagai tempat pelayanan kesehatan?

Begini, jika anda diberikan kartu sebagai tanda anda berhak mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa harus mengeluarkan uang tunai pada saat tersebut, apakah anda masih ingin mendapatkan pelayanan kesehatan dengan membayar langsung pada saat tersebut? Apalagi sebab kartu itu gaji bulanan anda telah dipotong secara paksa (tanpa tanya anda setuju atau tidak) karena program pelayanan kesehatan ini seolah menjadi program wajib yang menggantikan program-program kesehatan sebelumnya (seperti penggunaan kartu kuning pada anggota POLRI). Nah karena keajaiban kartu bertuah inilah, sakit kepala sedikit dirujuk ke rumah sakit, flu sedikit dirujuk kerumah sakit, puyeng sedikit dirujuk kerumah sakit. Maka jadilah rumah sakit seramai itu.

Tidak ada yang salah dari perkara “ramainya” rumah sakit ini. Justru bagus masyarakat lebih sadar dengan hak mereka terhadap pelayanan kesehatan. Setidaknya program ini bisa membantu banyak masyarakat tidak mampu. Apa ada yang salah? Tentu ada. Dari kaca mata saya sendiri sebagai satu dari jutaan masyarakat yang menyaksikan dan merasakan sendiri pelayanan kesehatan di Indonesia selama ini punya beberapa poin tentang pelayanan yang berurusan dengan kartu-kartu ini. Dari sudut pandang saya, ada salah yang banyak-sekali untuk diperbaiki.

Pertama, prosedur acak yang seringkali tidak jelas. Dari beberapa kali pengalaman menjadi asisten, teman, pasien, dan posisi lain saya di dalam sistim, prosedur yang semrawut dan sangat tidak efektif begitu mengganggu. Mulai dari harus membuat surat rujukan, fotocopy KK dan KTP serta si kartu yang diminta berulang-ulang, serta mondar-mandir kesana-kesini pada saat eksekusi “sesi pengobatan”. Pertanyaan saya, untuk apa berulang-ulang kali meminta rujukan dan fotocopy ini itu kalau si pasien sudah punya kartu ajaib tadi. Mereka bukan pasien gratis lho., kenapa dipersulit. Bukankah data si pemegang kartu sudah tersimpan di database? Kenapa masyarakat harus dipaksa mondar mandir lagi setelah terpaksa memakai kartu ajaib tadi.

Nah permasalahan prosedur ini setidaknya bisa kita lihat dari panjangnya antrian untuk pengobatan di poliklinik RS Ibnu Sina Bukittinggi. Banyak pasien yang datang dari pagi sekali lalu baru berhasil pulang sorenya. Antrian panjang dan pelayanan yang terasa sedikit lelet sedikit bertabrakan dengan pasien yang semakin banyak. Ya setidaknya penyelenggara fasilitas dan pelayanan kesehatan di negara kita ini dapat memperbaiki sistim mereka dalam melayani masyarakat dengan, misalnya dengan mulai memperhitungkan seperti ini “dengan pasien yang semakin banyak setiap hari dan sibuknya pelayanan, rumah sakit bisa melakukan apa agar mereka yang butuh pelayanan kesehatan ini bisa ditangani dengan segera senyaman mungkin”.

Kedua, pelayanan yang tidak ramah. Seringkali ketika menggunakan kartu ajaib ini saat menggunakan fasilitas kesehatan, si ibu-ibu, kakak-kakak yang bertugas kasih wajah asem, kasih suara judes ke pasien-pasien pemegang kartu ajaib ini. nah lho Bu, kami ini bukannya gratis lho, kan rumah sakit situ dibayar juga, prosedur nya aja yang berbeda. Jadi, dengan kesan “gratisan” yang ditanggung si pemakai kartu ajaib ini maka ter-judes-kan lah para pasien yang berharap dapat fasilitas kesehatan dengan baik ini. Kesal? Saya sendiri sangat kesal. Noda-noda hitam dari pelayanan kesehatan ini bertambah-tambah. Yah meskipun jika dibandingkan dengan rumah sakit lainnya yang ada di Bukittinggi, pelayanan di RS Ibnu Sina adalah favorit masyarakat, tapi jika sudah berhubungan dengan antri-antrian kartu-kartu sehat ajaib ini pasti ada yang judes.

Cukup dua sepertinya yang saya bahas. Sebab bila saya ceritakan semuanya akan berujung curhat atau terdengar seperti mencaci maki, sementara ketika tulisan ini terbaca saya hanya ingin fasilitas dan pelayanan yang sangat tidak bagus ini dapat menjadi lebih baik. Saya juga tidak bisa menyalahkan si rumah sakit atau si pihak yang membuat program kartu ajaib bertema asuransi kesehatan ini, sebab dari buruknya pelayanan dan fasilitas kesehatan ini adalah tugas bersama untuk memperbaikinya, dimulai dari tertib antri pada saat mendaftar di loket pendaftaran pasien, serta sebisa mungkin mengatasi segala bentuk penyakit sederhana dengan cara-cara alternatif yang rasional seperti pijat refleksi, minum ramuan herbal yang alami dari tumbuh-tumbuhan bermanfaat, dan berolahraga. Dan yang paling penting untuk dilakukan adalah, be kind to one another hingga tidak ada lagi petugas-petugas tidak ramah di pelayanan apapun.

Penulis: @sucibyt

Bagikan Sekarang!

Mungkin Anda Menyukai

3 tanggapan untuk “Curhatan Netizen Tentang Ribetnya Penggunaan “Kartu Sehat” di Rumah Sakit Bukittinggi

  1. Well.. saya tidak akan menampik hal diatas.. mulai dari prosedur panjang, ribetnya ngantri.. fotokopi2 memang benar adanya seperti itu.. tapi itu semua karena tuntutan dari penyedia jasa asuransi kesehatannya, ada banyak berkas yang harus dilengkapi supaya nanti bisa diklaim rumah sakit ke penyedia jasa asuransi kesehatan, kurang satu tanda tangan atau diagnosa/tindakan saja, mereka tidak mau mengklaim, berkas dikembalikan lagi, dan itu membuat petugas RS kerja dua kali..

    Terus kalo yg masalah perawat yg judes, itu juga benar adanya, tapi gak semuanya kok, kebanyakan perawat jutek/judes karena terkadang pasien yang nyiyir, tidak mau diarahkan dan hal lainnya yang bikin si perawat juga kehilangan keramahannya.. hehe

    Walaupun saya bukan perawat, saya juga pelayanan di RS, Saya juga merasakan betapa ribetnya ketentuan yang dibuat sama penyedia jasa asuransi kesehatan, bukan hanya pasien, kami juga ribet.. setiap bulan ada aja peraturan yang berubah..tapi ya bagaimana lagi Rumah sakit dan juga pasien sama2 membutuhkan jasa auransi kesehatan tersebut, ya kita harus penuhi syarat2 dari mereka😂

  2. kartu sehat, bisa juga disebut asuransi, dan memang sejenis asuransi, yang punya syarat dan ketentuan, bukan karena perbulan si pemilik kartu dipotong gaji atau memberikan iur-an, maka dengan gampang berobat dimana saja kapan saja, tanpa bayar apa-apa. ada peraturan dan prosedur, kalau peraturan atau prosedur tidak dijalani, maka si kartu sehat ini tidak akan berlaku. masalahnya pemilik kartu sehat ini banyak yang tidak tau apa-apa tentang prosedur, buta akan peraturan, tidak peduli dengan syarat-syarat, dan ketika diberikan edukasi tentang semua informasi bagaimana cara agar si kartu sehat berlaku. langsung petugas rs di senggak, bentak, dibilang menyusahkan pasien, dibilang ribet, dibilang judes, dibilang tidak ramah. petugas rs tidak pernah marah melihat kartu sehat, pasien yg memiliki kartu sehat memang tidak membayar ketika berobat, tp setelah itu tagihan rs akan dibayar oleh instansi kartu sehat tsb. tapi jika instansi kartu sehat tsb mendapatkan berkas yg dikirim rs tdk sesuai prosedur yg mereka minta, maka tagihan rs tdk dibayar. mohon utk pemilik kartu sehat belajar memahami prosedur, peraturan, dan apa saja yg dijamin dan tdk dijamin oleh kartu sehat yang anda miliki tsb, jgn hanya petugas rs saja yg dibilang judes dan kasar hanya karna ketika berobat kartu sehat tidak berlaku, atau disuruh melakukan prosedur yg “ribet” itu. kalau ingin tanpa prosedur dan tanpa ribet, jadi pasien umum saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *