Pasar Bawah Bukittinggi: Pedagang Paling Ramah, Harga Paling Murah

bukittinggiku – Lama tidak berkunjung ke Pasar Bawah di Bukittinggi, akan terasa banyak perbedaan antara pasar iconic ini dengan pasar-pasar lainnya di kota-kota terdekat, Pasar Raya misalnya. Pasar Bawah Bukittinggi seperti memiliki keunikan dan warnanya sendiri. Pasar Bawah yang sering malas untuk didatangi “ABG” karna bau ikan, dan becek ini ternyata memiliki ciri khas sendiri.

Ketika berada di los-los Pasar Bawah, akan terasa aroma berbeda di setiap los. Los daging, ya tentu anda akan menghirup aroma daging sapi dimana-mana. Los ayam, anda akan mendengar teriakan ayam-ayam gadis yang disembelih lehernya. Los ikan, anda akan geli sendiri dengan beceknya. Belum lagi bau amis dari los ikan kering (red: maco). Semua gang memiliki warna dan aroma yang berbeda.

Dari semua bagian-bagian yang terdapat di Pasar Bawah ini, anda akan selalu menemukan pedagang yang memanggil-manggil pembeli yang berseliweran. Mulai dari suara Ibu-ibu tua, tante-tante paruh baya, Bapak-bapak dan anak muda. Yang unik dari cara para pedagang memanggil pembeli ini adalah, setiap Ibu-ibu yang melewati kios mereka dipanggil dengan sebutan “tante” atau “mama”. Keramahan pedagang ini menggelitik telinga saya ketika secara kebetulan saya terpaksa masuk ke dalam pasar yang dari dulu sering saya hindari.

Mungkin panggilan-panggilan seperti ini sudah sering didengar oleh pembeli-pembeli yang rajin keluar masuk pasar. Di telinga saya, panggilan ini terdengar begitu ramah dan berbeda. Karna sering kali saya hanya mendengar pedagang-pedagang di setiap pasar hanya memanggil pembeli dengan sebutan “uni”, “Buk”, atau “diak”. Sedangkan panggilan “tante” terdengar begitu ramah. Belum lagi wajah-wajah friendly yang sengaja dipasang selama duduk menunggu dagangan mereka.

Ya, meskipun saya sering menghindari masuk ke Pasar Bawah karena becek dan aromanya, saya tetap menghargai keunikan dan kebersihan Pasar Bawah yang termasuk rapi dan bersih ini. Pasar dengan pedagang-pedagang ramah yang sejak dulu menjadi penyalur kebutuhan masyarakat Bukittinggi maupun pendatang. (Foto & teks: @sucibyt).

Bagikan Sekarang!

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *