Sebelum Jam Gadang, Jenjang Ini Pernah Menjadi Icon Kota Bukittingi Tempo Dulu

bukittinggiku – Jam Gadang, tak ada yang tak mengenal nama sebuah jam besar yang terletak di pusat Kota Bukittinggi ini. Ngarai Sianok pun begitu. Lobang Jepang? Juga tak mau kalah. Benteng Fort de Kock? Jembatan Limpapeh? Hampir selalu disebut-sebut orang, apabila Anda berkunjung ke Bukittinggi dan menanyakan tempat wisata.

Akan tetapi sebenarnya Bukittinggi memiliki banyak objek wisata unik yang harus dikunjungi, salah satunya adalah Jenjang 40 atau Janjang Ampek Puluah dalam bahasa Minangkabau. Terletak di Kelurahan Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, jenjang ini dahulu dikenal sebagai ikon wisata Kota Bukittinggi setelah Jam Gadang.

Bahkan sampai menjadi lirik lagu Andam Oi yang berjaya di Sumatera Barat pada era 80-90 an. Namun belakangan nama Jenjang 40 seolah tenggelam oleh Ngarai Sianok, Lobang Jepang bahkan destinasi wisata baru Jenjang Koto Gadang.

Sejarah Jenjang 40 Bukittingi

Padahal, jenjang ini telah lama dibangun, bahkan mendahului pembangunan Jam Gadang (Jam Gadang dibangun 1926). Jenjang Empat Puluh dibangun pada tahun 1908 sewaktu Louis Constant Westenenk menjabat sebagai Asisten Residen Agam.

Pada waktu itu, pemerintah Hindia-Belanda membuat kebijakan untuk menghubungkan setiap pasar di Bukittinggi dengan janjang (bahasa Indonesia: jenjang atau anak tangga). Sebab kontur dan topografi Bukittinggi yang tidak rata dan berbukit membuat pasar-pasarnya yang terletak berdekatan terpisah oleh bentuk tanah.

Sehingga dibutuhkan suatu penghubung untuk penataan pasar. Maka dibuatlah Jenjang Empat Puluh yang menghubungkan Pasar Atas dan Pasar Bawah Bukittinggi. Selain Jenjang Empat Puluh, beberapa jenjang lainnya juga dibangun, di antaranya Janjang Gudang, Janjang KampuangCino, dan jenjang di Pasa Lereng yang bersambung dengan Janjang Gantuang.

Terjal Sekaligus Unik

Sebenarnya Jenjang 40 memiliki lebih dari 40 anak tangga yang terbagi dalam beberapa bagian. Jumlah anak tangga keseluruhan dari anak tangga paling bawah di trotoar Jalan Pemuda, Bukittinggi sampai ke anak tangga paling atas adalah 100 anak tangga.

Namun, pada bagian teratas anak tangga yang ada berukuran lebih kecil dan curam. Angka 40 adalah jumlah anak tangga yang terdapat pada bagian paling atas dan curam ini. Bentuk Jenjang 40 secara keseluruhan sangat lebar, di kiri kanan terdapat rumah dan toko. Jalur ini tidak banyak dilalui pejalan kaki, sehingga tidak ada pedagang kali lima yang berjualan di area ini.

Jenjang 40 bagian atas menjadi bagian paling menantang bagi para pengguna jenjang. Sebab kemiringannya 45 derajat, dengan tinggi tiap anak tangga 25 cm. Saking terjalnya, banyak para pengguna yang belum terbiasa mendaki Jenjang 40, harus berhenti sejenak di tengah jalan untuk mengumpulkan tenaga, lalu melanjutkan lagi mendaki. Lantai tangga berwarna merah tua, bermotif. Pada musim hujan harus berhati-hati melalui Jenjang 40, karena curah hujan yang tinggi dan aliran air dari pasar atas melalui tangga, menyebabkan tangga menjadi licin dan ini membahayakan pejalan kaki. Walau di sisi kanan tangga terdapat railing, untuk pegangan saat naik dan turun.

Keunikan Jenjang 40 telah menjadi daya tarik sendiri, begitu pula latar belakang sejarahnya. Sehingga sangat layak untuk dikunjungi.

(sumber : https://aet.co.id/pariwisata/jenjang-40-icon-wisata-bukittinggi-yang-terlupakan )

Bagikan Sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *